Beranda Nasional POLEMIK “SIMBOL DAJJAL” Dan Pelajaran “ADIL”

POLEMIK “SIMBOL DAJJAL” Dan Pelajaran “ADIL”

85
0

Lensanaga.com

Kisah ini terjadi beberapa tahun lampau, beberapa hari setelah Raja Saudi Arabia Abdullah bin Abdul Azis meninggal dunia. Waktu itu, hari jum’at, seorang khatib di Masjidil Aqsha memberikan khutbah jumat sembari meratapi kematian Raja Abdullah. Tiba-tiba beberapa jamaah berdiri dan menyampaikan interupsi, tak cukup itu, mereka beramai-ramai menggelandang khatib jum’at itu, keluar masjid.

Menurut jamaah – yang orang Palestina – kematian Abdullah bin Abdul Azis, tak perlu diratapi, kalau bisa justru disyukuri. Mengapa? Orang-orang Palestina, umumnya mensyukuri kematian Raja Abdullah yang menurut mereka merupakan sekutu dari Amerika Serikat, dan otomatis sekubu dengan musuh mereka: Israel.

Di masa kekuasaan Raja Abdullah – yang meninggalkan tujuh isteri dan dan duapuluhan anak ini – Saudi memang sedang membangun wilayah sekitar Mekkah secara besar-besaran yang dikenal dengan The Great Mecca Project. Bukan hanya itu, secara keseluruhan wilayah Saudi Arabia juga mengalami pembangunan yang cukup berarti. Hal yang sebenarnya patut disyukuri, namun ada hal-hal aneh yang melingkupi pembangunan di sana-sininya tersebut. Mereka tak segan-segan meratakan situs-situs bersejarah Islam, dengan alasan situs-situs itu bisa merusak kemurnian tauhid, namun di sisi lain, dipuing-puing reruntuhan situs itu, dibangun bangunan-bangunan yang ditengarai “mengandung” simbol Dajjal dan Iblis.

Hal inilah yang membuat banyak kalangan percaya jika Kerajaan Saudi Arabia sesungguhnya adalah kerajaan yang jauh dari kata islami. Sudah umum diketahui oleh setiap yang hatinya lurus dan akalnya sehat bahwa, Saudi lebih mesra bergandeng tangan dengan Israel ketimbang membela kepentingan Palestina.

Salah satu yang paling mencolok adalah Menara Abraj Al Bait atau Kompleks Abraj Al Bait. Menara ini adalah sebuah kompleks bangunan yang terletak di Kota Mekkah, Arab Saudi, tepat di atas Kabah, kiblat umat Islam. Kompleks bangunan ini dirancang oleh para arsitek dari Dar Al Handasah Architects dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Bin Ladin Group. Lokasi menara ini berada di seberang jalan Masjidil Haram, salah satu masjid suci umat Islam.

Kompleks Abraj Al Bait dibangun untuk menampung para jamaah Haji yang semakin banyak datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Bisnis perhotelan yang semakin lama menjadi berkembang di kota ini juga tak terlepas dari banyaknya jamaah haji ini. Selain itu, Menara Abraj Al Bait ini juga dirancang untuk mampu menampung sampai dengan 10.000 orang.

Bangunan yang paling tinggi di kompleks Abraj Al Bait (Hotel Tower) menjadi struktur tertinggi di Arab Saudi dan kedua di dunia setelah Burj Dubai di Dubai, Uni Emirat Arab, terhitung pada tahun 2011 (bertepatan dengan selesainya bagian menara Hotel Tower).

Dengan luas area lantai sebesar 1.500.000 m2, bangunan ini merupakan bangunan dengan area lantai yang paling luas didunia pada saat bangunan ini selesai dibangun. Pada Juli 2013, rekor ini pecah bertepatan dengan selesainya New Century Global Centre, suatu bangunan multifungsi yang ada di Chengdu, China.

Di Hotel Tower, diletakkan sebuah jam pada setiap sisi dari Hotel Tower. Jam ini memiliki panjang dan lebar 80 meter. Keempat jam ini dipasang pada ketinggian 530 meter, sehingga menjadikan jam ini sebagai yang terbesar, sekaligus tertinggi (berdasarkan letaknya) di dunia.

Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian menyebut pembangunan tersebut sebagai “It is the end of Mekkah“. Sementara Sami Angawy, arsitek pendiri Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah memandang transformasi yang berlangsung Makkah benar-benar kapitalistis tanpa memahami situs kesejarahan di sekitarnya.

“Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit,” ujar Angawy.

Pembangunan Abraj al Bait ini juga sempat menimbulkan ketegangan antara pemerintah Arab Saudi dan Turki karena harus menggusur Benteng Ajyad yang dibangun oleh Keraajaan Turki Usmani pada tahun 1781. Pembangunan benteng ini dimaksudkan untuk melindungi Ka’bah dari serangan pihak luar. Benteng yang sangat bersejarah ini dihancurkan dan diganti dengan sebuah kompleks gedung kedua tertinggi dunia dengan simbolisasi kemenangan iblis atas Allah di puncaknya. Benarkah demikian?

Pandanglah tower itu yang nyaris menyundul langit! Jauh di sana terdapat sebuah jam mirip dengan Jam Big Ben di London namun berukuran jauh lebih besar.

Di atas jarum jam The Royal Clock Abraj Al-Bait, terdapat lafadz Allah Swt. Namun jauh di atasnya, di tempat paling puncak menara ini, ada simbol tanduk iblis (Lucifer) yang sangat familiar bagi siapa pun yang memahami bahasa simbol. Maknanya sangat dalam dan menyedihkan: Iblis mengalahkan Allah swt! Subhanallah.

Walau di dalam naskah resmi Abraj Al-Bait ini diperuntukkan bagi kaum Muslim, namun pada kenyataannya Abraj al-Bait dikelola oleh Jaringan Fairmot Hotel. Benjamin Swig, seorang tokoh Zionis Yahudi dan banker kenamaan dunia adalah pendiri Fairmont pada tahun 1945. Fairmont ini juga mengelola banyak kasino atau pusat judi di Mote Carlo, Las Vegas, dan lainnya. Aneh saja jika penguasa Saudi Arabia begitu permisifnya dengan membolehkan perusahaan maksiat dan zionis ini mengelola sebuah kompleks hotel yang berdiri sangat megah mengangkangi Baitullah dan kompleks Masjidil Haram.

Abraj al-Bait adalah yang paling ketara. Selain itu ada simbol “Mata Yang Melihat” yang dalam dunia simbolisme memiliki banyak nama. ada “Eye of Providence”, “Horus eyes”, “All Seing Eyes”, dan sebagainya. Namun semua istilah tersebut mengacu pada satu makna: Mata Iblis Yang Mengawasi Semuanya. Dalam pengertian yang lebih spesifik: Seluruh aktivitas manusia di bumi ini akan dikontrol oleh satu kekuatan, yakni Lucifer atau Iblis itu sendiri.

Simbol mata yang paling populer dan jelas maknanya adalah All Seing eyes seperti terdapat di satu sisi mata uang satu dollar AS: sebuah mata di atas puncak piramida.

Di Saudi, terdapat banyak sekali simbol-simbol “Mata Yang Melihat” ini. Tidak saja berupa logo-logo pemerintahan yang ‘hanya mirip’, namun juga ada yang memang jelas-jelas berupa mata dalam bentuk yang sangat besar dan terang-terangan.

Di saat sekarang ini, dunia tengah menyaksikan bagaimana situs-situs bersejarah yang teramat penting dalam Islam yang berada di Saudi Arabia dihancurkan satu-persatu hingga tiada lagi bersisa. Situs-situs Islam tersebut dimusnahkan dan digantikan dengan pembangunan situs-situs Dajjal yang sarat simbolisme penyembahan terjadap iblis. Ironisnya, semua itu dilakukan kaum wahabi yang berkuasa di Saudi atas nama pemurnian terhadap ketauhidan.

Kaum Wahabi agaknya lupa jika apa yang mereka kerjakan sekarang ini–membongkar dan memusnahkan situs-situs Islam-adalah bid’ah, karena dalam sirah Nabi SAW dan para Sahabat-Nya, orang-orang pilihan Allah Swt ini tidak pernah membongkar situs-situs yang sudah ada. Ka’bah tidak dibongkar, patung Lata dan Uzza tidak dibongkar, piramida Mesir tidak dibongkar, dan lain sebagainya.

Alangkah anehnya orang-orang Saudi ini, mereka menghancurkan situs-situs Islam tapi berlomba-lomba mendirikan simbol-simbol Dajjal di seantero wilayahnya. Apa yang ada di kepala mereka?

Lebih aneh lagi isi kepala, sebagian ustadz dan pengikutnya di negerinya Via Vallen. Ada masjid di sebuah Rest Area di Trans Jawa, diserukan diboikot gara-gara mengandung segitiga yang menurut ustadz tersebut mengandung simbol Dajjal, tetapi menjadikan Saudi sebagai negeri impian mereka. Mbok sekali-kali, kami ingin juga mendengar, ustad yang “Entu” dan rombongannya, berikan fatwa, atau serukan boikot, haram sholat di sekeliling Masjidil Haram, sampai Saudi menghilangkan semua simbol-simbol Dajjal itu, yang tentu saja lebih parah, ketimbang masjid segitiga atau trapesium di rest area-nya Tol Trans Jawa.

Percaya “segitiga” itu simbol Dajjal – betapapun menggelikan dan lucu – itu hak siapa pun. Tapi, mbok ya jangan tebang pilih. Quran yang sama-sama kita pegang, menasehati kita semua, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al Maa-idah:8]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here